Masa
kecil adalah masa-masa bermain yang tak ada beban dipikiran anak-anak, pikiran
lepas berjalan apa adanya meskipun sekali ada saatnya menangis karena suatu
pertengkaran dengan sesama teman namun itu hanya sesaat dan saat itu baikan
kembali itu lah masa-masa kecil dulu dan tidak mempunyai rasa dendam, mudah
memaafkan tidak ada yang namanya iri hati atau dengki. Semasa kecil dulu
tempatnya dikampung cibubuay, saya gemar sekali bermain permainan tradisional,
seperti, bermain layang-layang, pistol-pistolan, mobil-mobilan yang terbuat
dari bambu, bermain sondah, bermain lompat tinggi, boy-boyan petak umpat, main
bola, dan lain sebagainya.
Namun apa boleh buat
zaman telah berganti semua permainan itu sekarang hilang ditelan oleh zaman
masa sekarang, yang berubah menjadi permainan yang serba modern. Dan anak-anak
sekarang mulai beralih
menggunakan permainan modern tersebut seperti boneka-bonekaan,
mobil-mobilan yang pakai remot kontrol, PS, dan lain sebagainya semuanya harus
membeli. Anak-anak dikampung saya telah menjadi korban dari globalisasi
permainan modern. Globalisasi selalu dikaitkan dengan modernsiasi, tidak kuno,
tidak ketinggalan jaman,dan lain sebagainya. Sehingga implementasinya, anak
akan dicap ‘gak gaul’ atau ‘katrok’ jika tidak mencoba atau mengganti
permainan-permainan tradisionalnya dengan mainan produk globalisasi tersebut.
Ada beberapa orang tua yang kenapa mau
memberikan/membelikan permainan tersebut alasanya agar anaknya betah dirumah tidak
keluyuran keluar rumah.
Padahal
bila saya telaah permainan teradisional tersebut banyak manfaat dan filosofis,
entah itu manfaat secara kasat mata atau sikis, salah satunya adalah kesehatan
badan dikarenakan badan selalu bergerak ketika menikmati permainan tersebut,
dan otak selalu berputar dengan berbagai taktik dan ide agar kita memenangkan
permainan tersebut. Peran kebersamaan dan kekompakan pun tidak bisa lepas dari
sebuah permainan.
Apakah
benar irwan permainan tradisional mempunyai filosofis, Saya ambil contoh dalam
hal bermain layang-layang dimana kalau kita ingin layang-layang itu terbang
tinggi pasti butuh usaha kesabaran dan kerja keras, namun ketika layang-layang
itu sudah terbang tinggi kita harus mampu memainkannya, agar terjangan angin
tidak mengoyak dan menghancurkan layang-layang itu, begitu pun hidup kalau
menurut saya untuk mencapai suatu tujuan perlu usaha dan kerja keras dan ingat
harus dibarengi dengan doa, namun ingat ketika hidup kita sudah dipuncak atas
kesuksesaan godaan selalu ada, hal ini di ibaratkan angin yang menerjang layang-layang
yang kita mainkan.
Masa
kecil kita tidak sia-sia bila kita mengalami dan merasakan permainan tempo dulu
sebab hal itu menurut saya murni terlahir dari sebuah kreatifitas dari anak
cibubuay itu sendiri tanpa pengaruh oleh budaya Barat itu sendiri.
.jpg)






0 comments:
Post a Comment