Hanya dengan
pendidikan yang baik, yang berkualitas sesuai dengan jenjangnya, anak-anak bisa
tumbuh menjadi generasi yang qurrata ‘ayun (buah hati yang menyejukan), sosok
generasi yang didambakan agama, masyarakat, dan bangsa, lebih-lebih orang
tuanya.
Allah swt berfirman:
“Ya tuhan
kami, anugerahkan lah kepada kami isteri-isteri kami dan anak keturunan kami
sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami imam (pelopor, terdepan) bagi
orang-orang yang bertaqwa. (Q.S Al-Furqan:74).
Mengenai
pengertian qurrata a’yun Katsir bin Ziyad bertanya kepada Hasan Al-Bashri. “Apa
yang dimaksud dengan qurrata a’yun. Apakah qurrata a’yun itu di dunia ataukah di akhirat?’
Tanya Katsir bin Ziyad. Hasan Al-Bashri menjawab: “Demi Allah, itu didunia,”
seraya menjelaskan: “ Yaitu ketika seorang hamba melihat isterinya dan
anak-anaknya taat kepada Allah swt.
Demi Allah,
bagi orang muslim, tidak ada yang lebih menyejukkanya dari pada melihat
anak-anak isterinya tunduk patuh kepada Allah Azza Wa Jalla.”
Demi tumbuhnya generasi yang qurrata a’yun,
orang tua dengan demikian harus mewaspadai gejala mentalitas anak yang lemah
akibat faktor pendidikan yang tersiasiakan. Anak yang dikhawatirkan tidak mampu
menghadapi problem zamannya.
Padahal zaman dari masa-masa tidak semakin bagus
tapi justru semakin rawan. Allah swt memperingatkan:
“Dan hendaklah takut kepada Allah
orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang
lemah, yang dikhawatirkan terhadap (mentalitas) mereka. (Q.S An-Nisaa:9).
Bagian dari
kewaspadaan ini ialah orang tua tidak
menyerahkan anak sepenuhnya kepada sistem pendidikan yang tidak kondusif bagi
perkembangnya potensi fithrah mereka, apalagi pada sistem pendidikan yang
justru menyelewengkan potensi fithrah tersebut.
Sikap
menyerahkan anak sepenuhnya kepada sistem pendidikan yang tidak kondusif bagi
perekembangnya potensi fithrah merupakan awal dari bencana terbesar.
Rasulullah
Bersabda “ Setiap bayi dilahirkan atas fithrah (tahuid, iman). Kedua orang
tualah yang menjadikannya memeluk yahudi, atau nasrani, atau majusi. (H.R.
Bukhari I :240)






0 comments:
Post a Comment